David Teja - The Disco Dealer



David Teja a.k.a David Kekun adalah nama yang tak asing lagi di telinga DJ yang menjadi langganannya. Ditemui di rumahnya di sela-sela aktivitasnya yang padat, pria yang sehari-harinya menjual alat-alat DJ ini bercerita mengenai perjuangan bisnisnya dari dulu hingga sekarang. Berikut hasil wawancaranya dengan Ravelex.net:

Sejak kapan menggeluti bisnis jual alat DJ?
Dulu sejak 2002. Awalnya di Kekun, Kemang. 2002 saya mulai dari jualan piringan hitam sampai tahun 2005. Kemudian di 2006 berubah, sudah mulai ke arah digital, jadi piringan hitamnya sudah stop, DJ atau electronic music sudah mulai ke digital download. Nah, dari situ kita lengkapin ke alat-alat yang digital sampai sekarang.

Mengapa tertarik menjalani bisnis ini?
Ya awalnya dari hobi.

Dulu sempat jadi DJ?
Ya, saya DJ dari tahun dari tahun 1985 atau 1986 gitu, terus berhenti main DJ tahun 1994 dan sempat kerja kantoran. Setelah itu sampai sekarang jadi jual alat DJ. Ya karena hobi itu tadi sih. Sampai sekarang masih, buat promo2 juga, promo alat.

Dulu sempat sekolah DJ?
Nggak, belajar sama temen.

Pernah membuat sekolah DJ?
Dulu pernah buat sekolah DJ waktu di Kekun itu tahun 2004 – 2007, namanya URS.

Mengapa namanya URS?
Karena dulu basic-nya jualan piringan hitam. Piringan hitam kalau di sana disebutnya Records. Lalu dikembangin jadi Ultimate Records Shop atau URS.

Jual alat VJ juga?
VJ belom, cuma mungkin nanti akan jualan. Soalnya kalo VJ sekarang saya ngeliatnya belom terlalu hits. Mungkin nanti.

Sekarang jadi distributor brand apa saja?
Magma, Slappa, Reloop. Tiga itu. Kita pegang brand itu.  Semua merk ada tapi kita di Indonesia distributor terbanyak 3 merk itu.

Kenapa memilih brand tersebut?
Koleksinya bagus menurut saya.

Merk andalannya apa saja?
Sekarang sih Magma, Slappa, macem2 sih.

Tantangan terbesar di bisnis ini?
Tantangannya dulu waktu tahun 2002 awal-awalnya kita kesulitan cari-cari lagu. Karena waktu itu piringan hitam, jadi sistemnya saya import barang.

Import barang dari mana saja?
Dari Inggris, Amerika, Belanda. Karena saya punya koneksi di sana.

Pernah tinggal di sana?
Nggak pernah, Cuma ada rekanan bisnis aja di sana.

Modal awal menjalani bisnis dari mana?
Awal sendiri, semua sendiri. Pertamanya dari kartu kreditlah haha.. Modal kartu kredit aja, karena kan dulu belanjanya online. Jadi beli piringan hitam 10 buah, terus dijual ke DJ, laku-beli lagi-laku-beli lagi, ya kumpul-kumpulin dari situ aja.

Jualnya ke mana saja?
Langsung ke DJ-DJ. Dulu itu customer-nya Embassy. Resident DJ-nya Embassy kayak Irwan, Miko, Iman, dll terus berkembang deh tuh. Mereka pada demen lagu-lagunya yang update terus. Karena waktu piringan hitam, bisa setiap minggu masuk lagu-lagu baru, terus dan berkembang terus.

Ada perbedaan nggak ketika jual piringan hitam dengan jual digital?
Kalo dulu kan fokusnya di lagu, karena kalo di piringan hitam nggak harus jual equipment segala macem. Kalo sekarang, digital equipment-nya sudah banyak. Kalau lagu kan kadang-kadang mereka sudah bisa download sendiri lewat internet, murah, segala macem. Jadi ya sekarang sudah berkembang ke digital dan lebih ke equipment. Kalo dulu kan beli lagunya yang mahal, sekarang ya equipment. Lagu sekarang tinggal download aja.



Siapa customer favorit Anda?
Banyak banget. Sekarang kan DJ udah berkembang nih dengan digital, jadi semua orang lebih murah untuk jadi DJ, lebih mudah, belajarnya lebih gampang. Customer-nya juga jadi lebih banyak. Sejak 2007 kan berubah jadi online website, dengan internet dan online shop seperti ini ya jadi lebih luas cakupannya. Penjualannya sampai ke seluruh Indonesia dan DJ-DJ dari mana pun kan bisa mengakses.

Nggak sampe ke luar negeri?
Nggak, lokal aja.

Metode apa sih yang dipakai buat bisnis ini?
Biasanya sih dari mulut ke mulut, ke rekanan DJ, terus sekarang juga karena sudah semakin banyaknya customer, jadi kita promonya lewat online website, kebanyakan semuanya online ya.

Pernah mengalami rugi ketika berbisnis?
Ada. Waktu pas waktu peralihan dari analog ke digital, itu rugi karena piringan hitamnya banyak nggak laku kan jadinya.

Piringan hitamnya sekarang masih ada?
Masih ada sampe sekarang. Dijadiin koleksi aja.

Masih ada yang cari nggak?
Sekarang udah nggak. Hanya hobbies tertentulah yang masih mau, karena harganya semakin mahal, yaitu Rp175.000 per lagu.

Omset per bulan dari bisnis ini?
Ya lumayanlah, cukuplah buat hidup cukup, hehe. Sempet tahun 2007 atau 2008 itu drop, waktu peralihan dari toko di Kekun ke online website. Itu drop karena itu perubahan dari analog ke digital.

Drop-nya sempat mengalami vakum atau bagaimana?
Nggak sih, nggak sempet vakum, tapi memang sales-nya langsung turun.

Lantas gimana bisa bangkit lagi?
Karena nama sih, nama udah gede. Orang udah kenal, udah tau, jadi mereka nyari terus dan dibantu temen2 langganan.

Prinsip apa sih yang dipakai dalam menjalani bisnis?
Mmm… Kita lebih deket sama klienlah, sama customer. Ya karena langganannya kan tetap, loyal customer. Jadi kita yang maintenance mereka aja, selama mereka masih berprofesi sebagai DJ ya otomatis kita maintain terus.

Banyak orang yang menganggap Anda sebagai salah satu penjual alat terlama dan tetap bertahan sampai sekarang. Bagaimana tanggapan Anda?
Wah terimakasih. Ya itulah mungkin karena giat kerja, deket sama customer. Nggak semata-mata harus profit terus, kadang-kadang ada ruginya. Balance-lah, karena electronic dance ini kan market-nya kecil ya. Mereka juga as a DJ kan nggak selalu dapet fee., jadi kita saling support-lah supaya scene ini tetep hidup.

Support-nya seperti apa?
Bentuk support-nya ya kadang-kadang saya support mereka di event. Kadang-kadang ya kalau ke loyal customer saya support kredit hahaha.. Yaa saling bantulah gitu. Sekarang kan kompetitif banget tuh DJ, artinya sudah banyak DJ, klub sedikit, wadahnya nggak begitu banyak. Mereka juga kadang penghasilannya yaa… begitulah. Mungkin itu yang membuat mereka dekat.

Ada harapan/cita-cita yang belum tercapai?
Mungkin suatu saat ingin kembali buka warehouse atau outlet yang lebih besarlah.

Jadi sistem penjualan selama ini seperti apa?
Kita delivery. Dulu di sini (rumah pribadi), terus pindah ke Kekun, balik ke sini lagi.



Ada inovasi yang lagi ingin dibuat nggak?
Ada sih, Cuma masih belom boleh dikasihtau, karena kalo disebutin takut nggak jadi haha..

Memang di sini khusus jual saja atau bagaimana?
Rental juga ada kok.

Pernah kerjasama barter promo dengan pihak mana saja?
Pernah, sama radio-radio, majalah Audio Pro. Cakupannya lebih luas.

Sirkulasi barang masuk dan keluarnya tiap berapa lama?
Nggak tentu sih, tergantung. Ini kan kemaren karena bulan Desember, banyak barang terjual dan libur panjang, jadi stoknya baru masuk lagi nih.

Ada pengalaman menarik nggak selama berbisnis?
Yang menarik ya online memang, karena kan kita belum biasa bisnis online, jadi kadang-kadang mereka ragu. Di sini kan saya terapinnya sistem transfer, hanya customer tertentu yang bisa datang. Jadi kalo ada yang mau datang ke sini, kita janjian dulu. Itu gunanya untuk membiasakan mereka bahwa kita toko yang bisa dipercaya. Soalnya kadang-kadang orang kan takut, transfer duit dulu tapi ntar barang nggak dikirim.

Cara menyikapinya?
Sikapinnya ya karena kebetulan komunitas DJ kan semua kenal, jadi modal koneksi. Misalnya dari luar kota, saya tanya dia ada di daerah mana, lalu nanti akan saya suruh tanya sama customer yang pernah beli sama saya dan tinggal di daerah itu juga.

Pernah kecolongan nggak? Ketipu sama customer?
Selama ini sih nggak. Ya itu kan karirnya mereka, mereka curang sekali, habis karirnya.

Pandangan ke depannya bisnis ini?
Masih bagus selama hiburan masih hidup dan kreatifitas DJ terus berkembang. Karena kan electronic music ini kan lebih gampang untuk mendunia. Kita bisa upload, orang dari mana aja bisa denger, orang dari mana aja bisa download. Jadi kayak produser-produser Indonesia kan mulai dikenal sama mereka-mereka di luar lewat upload- uploadnya itu.

Saran/kritik dan tips untuk yang pengen bisnis seperti Anda?
Ya yang penting faktor kepercayaan, ini kan bisnis online ya. Bisa bertanggungjawab dan  banyak link itu pasti.

Bio :

Nama : David Tedja
Nama DJ   : David Manachi
Label : Stereoforward (2006 – now)
Resident DJ : Manhattan Discotheque - Ancol
Website : http://urs-pro.com/

// Words : Chitra
// Pictures : Clayz


25/01/11, 15:19 by Gober , Viewed 2421 times.

Comments

Please login or register to post comments.
    Pages: [1]

    Write Comment

  • Dekra  on 25/01/11, 16:28
    Nice... Warna baru di Artikel2nya RVLX...  *bgs* *bgs*
  • nandi  on 25/01/11, 18:34
    nice article and interview *piss*
  • Dyk Hillebrandt  on 25/01/11, 21:17
    kerennn neh artikelnnyaaa dan Om David emanggg canggih...... *bgs* *bgs* *bgs* *bgs* *bgs*
  • AndrE ClayZ  on 25/01/11, 22:41
    nantikan artikel selanjutnya...:)
  • gung didit  on 26/01/11, 00:27
    nice article ravelex  *tepuktangan* *tepuktangan* *tepuktangan*

    jadi inget dulu waktu beli headphone ke rumahnya om david  :-[ :-[

    sukses deh urs-pro  ;D ;D
  • iaz_holic  on 26/01/11, 08:24
    hheee..koh david...inget beli audio 4 dj,nanya" slapa..beli cd case slappa..
    banyak tanya sama kokoh uhuyy hhee..
    suksess yah buat URS nya..
    sukses buat artikel barunya rvlx hhee..
  • Debon  on 31/01/11, 12:05
    saya termasuk customer loyal... kadang2 suka kredit juga... ya gak Pak david? ;)
  • dirtynumbangelboy  on 31/01/11, 18:46
    nice article *bgs*
  • stormtroopers  on 18/03/11, 21:26
    Mr. DJ
    Lancar jaya.

    Kapan kita tour lagi ? heheheh  *tepuktangan*  *tepuktangan*
  • olis  on 25/03/11, 13:44
    nice info *tepuktangan*
  • abuL  on 14/04/11, 19:37
    seru nih baca nya,coba di interiew jg dong pengusaha alat dan rental alat dj laen nya kaya La Musica, Wilmix etc ..biar kita lebih mengenal siapa orang2 di belakangnya dan bisa belajar dr pengalaman mereka..two thumbs up buat RVLX  ;)
  • juno  on 14/04/11, 21:18
    mantabs